Terlahir
dari keluarga yang tidak mampu tidak menjadi halangan bagiku. Ya... bergerak
atau tertingal itu pepatah yang sering ku dengar, sebut saja nama ku Dimas
seorang anak yang mempunyai cita cita setinggi langit tapi tidak dengan harta
yang setinggi langit juga, “menjadi anak
orang miskin jadi sulit mewujudkan cita cita” ujarku saat merenung waktu
itu. Namun semua berubah ketika niat dalam hati tumbuh kembali dengan
sendirinya entah yang menumbuhkan ini adalah sang pencipta, cita cita ku hanya
ingin mengejar sarjana.
Petualangan
hidupku pun dimulai ketika aku lulus dari bangku SMA, menentukan mau kerja atau
mau sarjana, pilihan yang sulit bagiku, namun mau tak mau aku harus
menentukannya saat itu, “ ya aku harus
sarjana “ pikirku saat itu, aku egois sih... tidak memikirkan ekonomi
keluargaku saat itu, namun saya terus mencari, mencari kampus yang dapat
menerimaku dengan ekonomiku saat ini. “Inceran
kampus murah kalau tidak yang negri ya mana lagi” ujarku saat itu mulailah
dengan rasa percaya diriku aku pun mendafatkan diri di kampus negri favorit
yang ada di jogjakarta. Dengan nilai ku yang seukuran anak kutu ini aku percaya
diri mendaftarkan nilaiku, dan hasilnya tidak lolos. Namun keinginanku tidak
berhenti disitu saja. “kalau dengan jalur
nilai aku tidak bisa berarti dengan test saja” pikirku saat itu. Dengan
uang hasil jeri payah ku sendiri manggung sulap kesana sini dan menjadi triner
outbound, aku sangat percaya diri mendaftarkan diri ku lagi. Melewati beberapa
kali test dari SBMPTN, UMPTKIN sampai ujian mandiri sudah aku lewati dan hasil
pun sama TIDAK LOLOS.
Aku
pun sangat kecewa dengan hasil itu. Aku selalu mengadu kepada sang pencipta “ya Allah saya ini cuman ingin kuliah masak
engkau tidak memberikan jalan mudah” aduku kepada sang Pencipta kehidupan.
Bagaimana tidak terpuruk saat itu semua jeripayahku sudah aku keluarkan, untuk
membayar test test yang aku lakukan saat itu. Ditambah orangtua selalu
mengatakan hal terburuk yang akan terjadi kepadaku. Sampai saat itu saya
menerima telphon dari orang yang tidak aku simpan nomornya.
“mas dimas mau tidak kuliah di Institut Teknologi Nasional Yogyakarta ?” aku kaget mendengar telpon itu. Ternyata itu adalah guru BK sekolahku dulu. Bu Endang namanya. Kemudian aku bertanya “mau ibu jurusannya apa ya ? wah tapi kalau swasta aku tidak ada biaya bu” . kemudian bu Endang dengan sabar menjelaskan bahwa aku di rekomendasikan untuk kuliah geratis di Institut Teknologi Nasional Yogyakarta dan malah mendapatkan uang saku setiap bulannya sebesar 650 ribu saat itu. Hatiku sangat senang, ternyata Allah mengabulkan doaku ini. Saat itu aku belum tau jurusan apa yang ada di kampusn Institut Teknologi Nasional Yogyakarta. Saat saya tanya kembali kepada bu Endang, bu Endang bilang “ada dua jurusan, teknik elektro dan teknik mesin” disitu saya sedikit kecewa karena jurusan yang saya inginkan adalah jurusan non teknik.
Setelah saya
pikirkan matang matang dan saya juga menanyakan hal tersebut kepada kedua
orangtuaku. Malah justru saya semakin terpuruk, bagaimana tidak terpuruk ketika
orangtuaku berkata “uwes le gak usah
kuliah mengko kalau tiba tiba beasiswamu di cabut mamak lan bapak gak bisa
bayar duit semono” . diposisiku saat itu aku selalu mengatakan dan
meyakinkan kedua orangtuaku bahwa aku bisa aku sanggup kuliah sampai lulus
tanpa membebankan biaya kepada mereka. Namun tetap saja mereka tidak dapat
yakin akan perkataan ku dan terus memberikan perkataan yang menjatuhkan semangatku.
Aku pun mulai bimbang dan selalu berdoa agar ditunjukan jalan terbaik
buatku. Dan ujung dari kebimbanganku adalah aku tetap maju untuk mengambil
tawaran bu Endang saat itu. Walaupun aku tau aku harus siap menghadapi resiko
yang akan aku trima saat aku mengambilnya. Namun tekadku sudah bulat. Aku tidak
menghiraukan apa yang dikatakan orangtuaku saat itu. Tentang kemungkinan
kemungkinan yang terburuk yang akan terjadi padaku saat aku mengambilnya.
Benar saja karena
kedua orangtuaku tidak mendukungku untuk kuliah , aku harus mencari segala
sesuatu sendirian. Mencari kebutuhan adminisatrasi sampai ke kecamatan dengan
sendirian, mencari biaya pendaftaran dan kebutuhan alat tulisku dengan uangku
sendiri juga. Dimulai dari itu aku bekerja lebih giat lagi untuk memenuhi
kebutuhan ku saat aku berkuliah. Semua pekerjaan freelance yang ada saya ambil,
dan pekerjaan freelance yang saya suka adalah menjadi trainer outbound di
sebuah desawisata di daerah Turi.
“Aku harus bisa mengatur
waktu” kataku waktu itu. Agar aku dapat belajar dan
mempertahankan nilaiku namun juga dapat hidup mandiri tanpa uang dari
orangtuaku yang hanya berjualan bensin eceran. Saya terus berdoa kepada sang
pencipta kehidupan, agar di mudahkan rezeki ku dan rezeki kedua orangtuaku. Dan
alhamdulillah sang pencipta kehidupan mengabulkannya. Aku didekatkan dengan
orang orang yang dapat memberiku pekerjaan freelance yang dapat aku jadikan
sampingan saat itu, sehingga aku jadi bisa memenuhi kebutuhan kuliahku sendiri,
hingga makan dan traktir teman dengan menggunakan uangku sendiri.
Waktu terus berjalan, karena kebodohanku aku mendapatkan nilai IPK yang tidak setabil, wajar saja bagiku, aku yang tidak pandai merangkai rumus membuatku terjebak didalam ujian ujian yang sangat sulit bagiku. Namun aku tidak menyerah begitu saja. Aku terus berusaha dan berlatih , mencari teman yang pandai di kelasku dan memintanya untuk melatihku. Hingga disaat puncak pencapaiaan prestasiku. Prestasi bukan dalam bentuk nilai namun dalam bentuk karya.Ditahun 2018 saya dan teman temanku mengajukan sebuah karya kepada LLDIKTI , nama karyanya adalah SMAR-V yang saya ikutkan didalam PKM di tahun 2018. Alhamdulillah alatku dapat di lirik oleh LLDIKTI saat itu, alat yang cukup sederhana ini aku harap dapat memberikan efek besar terhadap Indonesia tercinta, alatku ini berfungsi untuk memperingatkan pengguna jalan yang selalu melanggar marka jalan. Di tahun 2018 itu aku dan temanku bermitra denan DINAS Perhubungan Kota Jogja. Dan alhamdulillah mereka mau bermitra dengan kami. Di tahun 2019 aku dan temanku mengajukan kembali alat kami SMAR-V, kali ini kami kembangkan agar dapat mengirimkan sms kepada pelanggar dan dapat memotret pelanggar. Alhamdulillah ditahun 2019 alat kami diterima dan didanai kembali. Dan pencapaian yang sangat aku banggakan adalah dapat ikut dalam perlombaan internasional di kota Bandung. Ya walaupun di pencapaianku itu tidak pernah mendapatkan juara, namun aku bangga. Dapat berkarya sebagai mahasiswa untuk bangsa ini.
Sekarang tujuanku dan pencapaianku yang ingin ku raih saat ini adalah lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude dan dapat berkarya di penindustrian teknik maupun di penindustrian entertaiment sperti tv, layar lebar maupun Youtube. Mungkin kelihatan aneh dan mustahil. Namun ingat keitka kita meminta pertolongan-Nya dan dibarengi dengan kerja keras dan tekad bulat hal yang tidak mungkin terjadi pasti akan terjadi.