Sempena Dalam Sebuah Adorasi

Oleh: Nur Naelatul F.
...

Panasnya terik sinar mentari disiang hari membuatku semakin penasaran akan hasil pengumuman kelulusan. Aku yakin aku lulus atas pengumuman teesebut, tetapi bagaimana hasil nilaiku? Apakah sesuai harapan atau tidak? Hal itu membuatku semakin penasaran. Tak lama kemudian Bapak datang dan menyodorkan surat pengumuman. Dan tentu saja aku lulus, namun untuk nilai aku merasa kurang puas. Tapi itupun sudah membuatku bersyukur, setidaknya itu adalah hasil jirih payahku sendiri dan tidak berlaku curang.

Dua minggu telah berlalu. Hari ini merupakan pengumuman hasil SNMPTN yang sudah aku daftar beberapa minggu sebelum pengumuman kelulusan sekolah. Kunanti dengan hati yang was-was, karena ini adalah langkah yang harus aku jalani selanjutnya. Tepat pukul 17:00 WIB hasil pengumuman SNMPTN. Langsung kubuka laman website tersebut ditemani Ibu disampingku. Dalam laman tersebut tertulis bahwa aku dinyatakan tidak lolos jalur SNMPTN. Saat melihat itu hatiku langsung rapuh dan badan terasa lemas.

“Bu, sepurane Adiba mboten lolos jalur SNMPTN.” Ucapku dengan nada yang lirih.

“Iyo nduk, ora opo-opo. Sesok di coba maneh ya lewat jalur laine.” Jawab Ibu sambil mengelus pundakku.

“Nggih buk, do’ain Nayla nggih Bu.”

“Pasti nduk, Ibu mesti do’a kanggo anak-anake Ibu.” Jawab ibu sambil tersenyum dan menyemangatiku.

Tak banyak dari kalangan pelajar sekolahku yang melanjutkan kuliah. Kebanyakan dari mereka setelah lulus langsung mendaftar kerja. Mereka yang ingin melanjutkan kuliah dapat dihitung dengan hitungan jari. Tujuan awalku masuk SMK tentu saja lulus langsung dapat kerja agar bisa membantu perekonomian keluarga. Hingga tak ada persiapan sebelumnya untuk bisa kuliah dengan mempertahankan nilai bagus agar diterima SNMPTN. Nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang perlu disesali, sekarang saatnya fokus untuk langkah selanjutnya.

Satu hal yang mengubah prinsip awalku saat masuk SMK lulus langsung kerja menjadi lanjut kuliah yaitu umurku yang saat itu belum genap 17 tahun. Sehingga aku tak dapat memenuhi persyaratan untuk daftar di perusahaan yang di tawarkan oleh BKK sekolah.

Tak sepatutnya aku terus-terusan larut dalam kesedihan berkepanjangan akan tidak lolosnya jalur SNMPTN. Masih ada jalur SBMPTN yang masih bisa aku ikuti. Aku dan teman-teman yang mendaftar SBMPTN saling bahu membahu untuk belajar bersama. Karena kami sadar bahwa kami dari lingkungan SMK yang notabenya tidak ada pelajaram biologi serta tidak mempelajari ilmu fisika secara mendalam.

Ujian SBMPTN dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2016 bertempat di kampus UNNES Semarang. Sehari sebelum ujian aku berangkat dari rumahku Blora menuju Semarang dengan memakan waktu 3 jam perjalanan. Keesokan harinya dengan segala persiapan aku siap melaksanakan ujian SBMPTN, tak lupa aku berdo’a kepada Sang Ilahi Robbi dan meminta do’a kepada orang tua sebelum berangkat.

Aku tidak yakin atas semua jawabanku. Seketika aku mengingat perkataan guruku waktu SMK.

“Bagi anak SMK, untuk awal masuk kuliah memang susah dan kalah dengan anak SMA. Akan tetapi ketika nanti sudah bisa masuk, anak SMK lah yang jauh lebih unggul.” Ujar Pak Mugi kala itu.

Benar saja, tanggal 28 Juni 2016 pengumuman jalur SBMPTN dan hasilnya pun nihil. Sedang teman-teman seperjuangan untuk lanjut kuliah bisa lolos jalur SBMPTN. Kini tinggal aku seorang diri yang masih harus berjuang. Sedih tentunya. Tapi ada Ibu yang selalu memberi motivasi dan semangat.

“Ndak papa nduk gak lolos lagi. Belum rejekinya. Sesok sinau ne sing luwih sregep yo nduk. Isih ono jalur Mandiri to? Di jajal disik nduk. Golek informasine mergo Ibu wes ora faham internet. Hehe.” Ujar Ibu.

“Tapi Bu, ndek wingi sampun ngeluarke arto kangge bayar SBMPTN. Mangke jalur mandiri nggih pendaftaranipun bayar malih.” Timpalku.

“Uwis ta nduk. Ora opo-opo. Mengko Ibu sing golek duwit. Wes kono sinau.” Tegas Ibu sambil berjalan meninggalkanku

“Nggih Bu.” Jawabku.

 Beberapa jalur masuk perguruan tinggi negeri sudah ku coba semua. Mulai dari SNMPTN, SBMPTN, kerjasama PLN dan Undip, serta yang terakhir jalur mandiri Unnes. Namun tak ada satupun yang jalur yang menerimaku. Sedih dan pupus harapan. Biaya untuk mendaftar beberapa jalur tersebut juga sudah banyak mengeluarkan biaya.

“Daftar meneh wae tahun depan Nel, nanging kanggo ngisi kekosongan waktu iki kowe iso sinau bahasa Inggris disik neng Pare karo mendalami meneh soal-soal SBMPTN.” Saran sepupuku saat main kerumah.

Sebenarnya aku juga ingin seperti itu. Tapi setelah ku pikir-pikir lagi kalau kursus di Pare pasti akan mengeluarkan biaya lagi. Dan aku sudah pesimis di awal jika tahun depan aku tidak dapat keterima lagi di jalur SBMPTN.

Ku urungkan saran dari sepupu ku. Aku cari info lagi di internet yang menyatakan bahwa kampus swasta juga bisa mendapatkan beasiswa bidikmisi. Langsung ku buka laman bidikmisi dan mencari informasi tentang kampus mana saja yang terdapat jurusan teknik elektro di daerah Jateng DIY. Ada 3 kampus pilihanku saat itu, yaitu UMS, STTA Adisucipto, dan STTNAS.

“Bu, kulo badhe daftar kuliah ting swasta angsal?” tanyaku dengan takut.

“Loh kok ning swasta to nduk? Swasta iku larang. Ibu ora kuat biayane nduk. Ora usah wae yo nduk. Golek kerja seadanya wae nduk.” Jawab ibu dengan tegas.

“Mboten kok Bu, niki wonten beberapa kampus swasta ingkang saget menerima mahasiswa bidikmisi. Dadose kulo badhe nyobi rumiyen.” Jawabku untuk menenangkan Ibu.

“Saiki ono ta swasta bidikmisi. Ya uwis nduk di coba disik ora opo-opo. Tapi yen mengko kuliah e keterima nanging bidikmisine ora keterima, mengundurkan diri wae ya nduk. Ibu ora kuat biayane.” Ujar Ibu.

“Nggih Bu, do’ane mawon.” Jawabku.

Untuk mencari info selanjutnua, maka pertama ku telfon pihak PMB UMS, dan ternyata sudah menutup pendaftaran bidikmisi. Masih ada STTA dan STTNAS di Yogyakarta. Kedua ku telfon kampus STTA Adisucipto, dan jawaban dari call centernya memang ada bidikmisi, akan tetapi untuk jurusannya sangat berbeda dengan apa yang aku inginkan. Dan terakhir yaitu STTNAS, kampus yang masih membuka pendaftaran mahasiswa bidikmis dan ada jurusan yang sesuai keinginanku.

“Alhamdulillah.” Batinku mendengar jawaban dari pihak PMB STTNAS.

Du hari kemudian aku berangkat ke Yogyakarta bersama Pak Dhe dengan mengendarai sepeda motor. Perjalanan Blora-Yogya sekitar 5 jam. Aku melakukan pendaftaran dan pengecekan berkas seperti mahasiswa lainnya. Dan setelah itu kami langsung pulang ke Blora.

Di akhir bulan Agustus 2016 aku mendapatkan telfon bahwasannya tanggal 27 Agustus 2016 pukul 09.00 WIB aku beserta wali harus datang ke STTNAS untuk pertemuan dengan wali mahasiswa.

Aku bersama Ibu berangkat dengan tumpangan mobil saudara yang kebetulan ada acara di Solo. Kami turun di Terminal Tirtonadi dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Bus. Sesampainya di Jogja kami turun di Janti lalu naik ojek menuju Kampus STTNAS.

Sesampainya disana, aku bertanya lokasi ruangannya kepada pak satpam. Setelah mendapatkan informasi, kami bergegas menuju ruangan tersebut. Di depan lift aku berkenalan dengan seseorang yang kebetulan akan menuju ke ruangan yang sama. Ellis namanya.

Di dalam ruang pertemuan tersebut hanya membahas tentang perkenalan satu sama lain dan tentang kampus. Setelah acara tersebut aku pulang bersama Ibu dengan berjalan kaki dari kampus menuju jalan Jogja-Solo. Karena kami tidak tahu apakah ada angkot atau tidak. Sesampainya di jalan raya Jogja-Solo ada bus berhenti, dan kami pun pulang ke Blora dengan naik bus. Ketika naik bus Jogja-

Blora harus berganti bus 3 kali. Di dalam perjalanan aku berbincang-bincang dengan Ibu.

“Bu, nopo artine niki kulo keterima nggih bu? Angsal beasiswa bidikmisi juga?” tanyaku karena aku masih belum yakin.

“Kayanya iya nduk.” Jawab ibu.

“Alhamdulillah.” Ucapku dan dilanjut Ibu yang juga mengucap syukur.

Awal masuk kuliah aku merasa masih tidak seberuntung teman-teman lain yang diterima kuliah di PTN. Namun Ibu selalu memberiku semangat.

“Ndak papa nduk. Sing penting iso kuliah. Iso nuntut ilmu. Ora usah minder lan sedih yen kampus swasta. Lakoni sing terbaik nduk.” Pesan Ibu tiap kali aku mengeluh.

Kuliah perdana, ada mimpi yang aku tulis di kertas kecil. Bahwasannya aku bisa lulus 3,5 tahun dan mendapat gelar cumlaude. Itu motivasiku untuk terus kuliah di STTNAS. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa menerima dan ikhlas untuk kuliah di STTNAS. Walaupun kampus swasta, mungkin ini adalah skenario yang sudah Allah buat untukku. Berkali-kali aku di tolak kampus-kampus lain, dan aku bisa diterima di STTNAS, pasti ada hikmah yang bisa aku dapat nantinya. Aku percaya bahwa skenario Allah jauh lebih indah.

Menjadi mahasiswa bidimisi memang mempunyai banyak tuntutan. Diantaranya bisa lulus kuliah tepat waktu, mendapat IP >3.00, aktif organisasi dan masih banyak lagi. Selain itu, Ibu juga menyuruhku ikut andil dalam kegiatan masjid daerah kos yang aku tempati, mulai dari remaja masjid hingga pengajar TPA.

“Nduk, sing pinter olehmu bagi waktu. Yen melu organisasi ojo lali tujuan utamane yaiku kuliah. Ojo lali sholat, ngaji, lan poso senin kamise dijaga.” Pesan yang sering Ibu kirim kepadaku.

Iya betul. Ketika kuliah memang harus pintar dalam membagi waktu. Selain itu juga harus memikirkan cara agar tidak boros. Itu adalah hal yang paling susah untukku.

Ketika kuliah tidak sepenuhnya berjalan dengan mulus. Entah tidak punya uang di akhir bulan, atau urusan kampus lainnya. Dan Alhamulillah semua itu dapat terlewati. Karena aku tidak sendiri. Aku punya sahabat yang selalu ada saat senang maupun susah. Ada Ellis , Hilliyana dan juga Dyah. Juga dikelilingi orang-orang baik lainnya.

Di akhir semester, aku kerja part time di sebuah bimbel yang ditawarkan oleh Hilliyana. Aku ambil tawaran itu. Karena aku tahu bahwa di akhir semester pasti akan mengeluarkan biaya yang lebih banyak. Mengandalkan uang saku dari pemerintah untuk mahasiswa bidikmisi saja tidak cukup. Dan aku adalah tipikal orang yang tidak tega untuk mimta uang tambahan kepada orang tua jika aku benar- benar tidak sedang membutuhkannya. November 2018, akupun merintis usaha dari hobi yang aku lakukan. Yaitu membuat handlettering. Hasilmya aku simpan untuk kebutuhan mendesak.

Atas izin Allah dan do’a kedua orang tua, skripsi ku berjalan dengan lancar. 5 Februari 2020 aku melakukan sidang pendadaran dan dinyatakan Lulus. Kini target yang kutulis diawal kuliah dapat kuraih. Ku yakin pertolongan Allah nyata adanya. Dan Allah akan memberi sesuai atas firasat/niat hambaNya. Kuharap keberkahan atas segala pengorbanan yang sudah orang tuaku lakukan, serta barokahnya ilmu yang telah aku peroleh. Thank you to all my suppprting system.