Panasnya
terik sinar mentari disiang hari membuatku semakin penasaran akan hasil pengumuman kelulusan. Aku yakin aku lulus atas pengumuman teesebut, tetapi bagaimana hasil nilaiku?
Apakah sesuai harapan atau tidak? Hal itu membuatku semakin penasaran. Tak lama
kemudian Bapak datang dan menyodorkan surat pengumuman. Dan tentu saja aku
lulus, namun untuk nilai aku merasa kurang puas. Tapi itupun sudah membuatku
bersyukur, setidaknya itu adalah hasil jirih payahku sendiri dan tidak berlaku curang.
Dua minggu telah berlalu. Hari ini merupakan pengumuman hasil SNMPTN yang sudah aku daftar beberapa
minggu sebelum pengumuman kelulusan sekolah. Kunanti dengan hati yang was-was, karena
ini adalah langkah
yang harus aku jalani
selanjutnya. Tepat pukul 17:00 WIB hasil pengumuman SNMPTN. Langsung kubuka
laman website tersebut ditemani Ibu disampingku. Dalam laman tersebut tertulis
bahwa aku dinyatakan tidak lolos jalur SNMPTN. Saat melihat itu hatiku langsung
rapuh dan badan terasa lemas.
“Bu,
sepurane Adiba mboten lolos jalur SNMPTN.” Ucapku dengan nada yang lirih.
“Iyo
nduk, ora opo-opo. Sesok di coba maneh ya lewat jalur laine.” Jawab Ibu sambil
mengelus pundakku.
“Nggih
buk, do’ain Nayla nggih Bu.”
“Pasti nduk, Ibu mesti do’a kanggo anak-anake Ibu.” Jawab ibu sambil tersenyum dan menyemangatiku.
Tak
banyak dari kalangan pelajar sekolahku yang melanjutkan kuliah. Kebanyakan dari mereka setelah
lulus langsung mendaftar
kerja. Mereka yang ingin
melanjutkan kuliah dapat dihitung dengan hitungan jari. Tujuan awalku masuk SMK
tentu saja lulus langsung dapat kerja agar bisa membantu perekonomian keluarga.
Hingga tak ada persiapan sebelumnya untuk bisa kuliah dengan mempertahankan
nilai bagus agar diterima SNMPTN. Nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang perlu
disesali, sekarang saatnya fokus untuk langkah
selanjutnya.
Satu
hal yang mengubah prinsip awalku saat masuk SMK lulus langsung kerja menjadi
lanjut kuliah yaitu umurku yang saat itu belum genap 17 tahun. Sehingga aku tak
dapat memenuhi persyaratan untuk daftar di perusahaan yang di tawarkan oleh BKK
sekolah.
Tak
sepatutnya aku terus-terusan larut dalam kesedihan berkepanjangan akan tidak
lolosnya jalur SNMPTN.
Masih ada jalur SBMPTN yang masih bisa aku
ikuti. Aku dan teman-teman yang mendaftar SBMPTN
saling bahu membahu
untuk belajar bersama. Karena kami sadar bahwa kami dari lingkungan SMK
yang notabenya tidak ada pelajaram biologi serta tidak mempelajari ilmu fisika
secara mendalam.
Ujian
SBMPTN dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2016 bertempat di kampus UNNES
Semarang. Sehari sebelum ujian aku berangkat dari rumahku Blora menuju Semarang
dengan memakan waktu 3 jam perjalanan. Keesokan harinya dengan segala persiapan
aku siap melaksanakan ujian SBMPTN, tak lupa aku berdo’a kepada Sang Ilahi
Robbi dan meminta do’a kepada orang tua sebelum berangkat.
Aku
tidak yakin atas semua jawabanku. Seketika aku mengingat perkataan guruku waktu
SMK.
“Bagi
anak SMK, untuk awal masuk kuliah memang susah dan kalah dengan anak SMA. Akan tetapi ketika
nanti sudah bisa masuk, anak SMK lah yang
jauh lebih unggul.” Ujar Pak Mugi kala itu.
Benar saja,
tanggal 28 Juni 2016 pengumuman jalur SBMPTN dan hasilnya
pun nihil. Sedang teman-teman seperjuangan untuk lanjut kuliah bisa lolos jalur
SBMPTN. Kini tinggal aku seorang
diri yang masih harus berjuang. Sedih tentunya. Tapi
ada Ibu yang selalu memberi motivasi dan semangat.
“Ndak papa nduk gak lolos lagi.
Belum rejekinya. Sesok
sinau ne sing luwih
sregep yo nduk. Isih ono jalur
Mandiri to? Di jajal disik nduk. Golek informasine mergo Ibu wes ora faham
internet. Hehe.” Ujar Ibu.
“Tapi Bu, ndek wingi sampun ngeluarke arto kangge bayar SBMPTN. Mangke
jalur mandiri nggih pendaftaranipun bayar malih.” Timpalku.
“Uwis
ta nduk. Ora opo-opo. Mengko Ibu sing golek duwit. Wes kono sinau.” Tegas Ibu
sambil berjalan meninggalkanku
“Nggih
Bu.” Jawabku.
Beberapa jalur masuk perguruan tinggi negeri sudah ku coba semua. Mulai dari SNMPTN, SBMPTN, kerjasama PLN dan Undip, serta yang terakhir jalur mandiri Unnes. Namun tak ada satupun yang jalur yang menerimaku. Sedih dan pupus harapan. Biaya untuk mendaftar beberapa jalur tersebut juga sudah banyak mengeluarkan biaya.
“Daftar
meneh wae tahun depan Nel, nanging kanggo ngisi kekosongan waktu iki kowe iso
sinau bahasa Inggris disik neng Pare karo mendalami meneh soal-soal SBMPTN.”
Saran sepupuku saat main kerumah.
Sebenarnya
aku juga ingin seperti itu. Tapi setelah ku pikir-pikir lagi kalau kursus di
Pare pasti akan mengeluarkan biaya lagi. Dan aku sudah pesimis di awal jika
tahun depan aku tidak dapat keterima lagi di jalur SBMPTN.
Ku urungkan saran dari sepupu ku. Aku cari info lagi di internet yang
menyatakan bahwa kampus swasta juga bisa mendapatkan beasiswa bidikmisi.
Langsung ku buka laman bidikmisi dan mencari informasi tentang kampus mana saja
yang terdapat jurusan teknik elektro di daerah Jateng DIY. Ada 3 kampus
pilihanku saat itu, yaitu UMS, STTA Adisucipto, dan STTNAS.
“Bu,
kulo badhe daftar kuliah ting swasta angsal?” tanyaku dengan takut.
“Loh
kok ning swasta to nduk? Swasta iku larang. Ibu ora kuat biayane nduk. Ora usah
wae yo nduk. Golek kerja seadanya wae nduk.” Jawab ibu dengan tegas.
“Mboten
kok Bu, niki wonten beberapa kampus swasta ingkang saget menerima mahasiswa
bidikmisi. Dadose kulo badhe nyobi rumiyen.” Jawabku untuk menenangkan Ibu.
“Saiki
ono ta swasta bidikmisi. Ya uwis nduk di coba disik ora opo-opo. Tapi yen
mengko kuliah e keterima nanging bidikmisine ora keterima, mengundurkan diri
wae ya nduk. Ibu ora kuat biayane.” Ujar Ibu.
“Nggih
Bu, do’ane mawon.” Jawabku.
Untuk mencari info selanjutnua, maka pertama ku telfon pihak PMB UMS, dan ternyata sudah menutup pendaftaran bidikmisi. Masih ada STTA dan STTNAS di Yogyakarta. Kedua ku telfon kampus STTA Adisucipto, dan jawaban dari call centernya memang ada bidikmisi, akan tetapi untuk jurusannya sangat berbeda dengan apa yang aku inginkan. Dan terakhir yaitu STTNAS, kampus yang masih membuka pendaftaran mahasiswa bidikmis dan ada jurusan yang sesuai keinginanku.
“Alhamdulillah.”
Batinku mendengar jawaban dari pihak PMB STTNAS.
Du
hari kemudian aku berangkat ke Yogyakarta bersama Pak Dhe dengan mengendarai sepeda
motor. Perjalanan Blora-Yogya sekitar 5 jam. Aku melakukan pendaftaran dan pengecekan
berkas seperti mahasiswa lainnya. Dan setelah itu kami langsung pulang ke Blora.
Di akhir
bulan Agustus 2016 aku mendapatkan telfon bahwasannya tanggal 27 Agustus 2016 pukul 09.00 WIB aku beserta
wali harus datang
ke STTNAS untuk pertemuan dengan wali mahasiswa.
Aku
bersama Ibu berangkat dengan tumpangan mobil saudara yang kebetulan ada acara
di Solo. Kami turun di Terminal Tirtonadi dan melanjutkan perjalanan dengan
menggunakan Bus. Sesampainya di Jogja kami turun di Janti lalu naik ojek menuju Kampus STTNAS.
Sesampainya
disana, aku bertanya lokasi ruangannya kepada pak satpam. Setelah mendapatkan
informasi, kami bergegas menuju ruangan tersebut. Di depan lift aku berkenalan dengan seseorang yang kebetulan akan menuju ke ruangan yang sama. Ellis namanya.
Di
dalam ruang pertemuan tersebut hanya membahas tentang perkenalan satu sama lain
dan tentang kampus. Setelah acara tersebut aku pulang bersama Ibu dengan berjalan
kaki dari kampus
menuju jalan Jogja-Solo. Karena kami tidak tahu
apakah ada angkot atau tidak. Sesampainya di jalan raya Jogja-Solo ada bus
berhenti, dan kami pun pulang ke Blora dengan naik bus. Ketika naik bus Jogja-
Blora harus berganti bus 3
kali. Di dalam perjalanan aku berbincang-bincang dengan Ibu.
“Bu, nopo artine niki kulo keterima nggih bu?
Angsal beasiswa bidikmisi juga?” tanyaku karena aku masih belum yakin.
“Kayanya iya nduk.” Jawab ibu.
“Alhamdulillah.” Ucapku dan dilanjut Ibu yang juga mengucap syukur.
Awal masuk kuliah aku merasa masih tidak seberuntung teman-teman lain yang diterima kuliah di PTN. Namun Ibu selalu memberiku semangat.
“Ndak papa nduk. Sing penting iso kuliah. Iso nuntut ilmu. Ora usah minder
lan sedih yen kampus swasta. Lakoni sing terbaik nduk.” Pesan Ibu tiap kali aku
mengeluh.
Kuliah perdana,
ada mimpi yang aku tulis
di kertas kecil.
Bahwasannya aku bisa lulus 3,5 tahun dan mendapat
gelar cumlaude. Itu motivasiku untuk terus kuliah di STTNAS. Seiring berjalannya
waktu, aku semakin bisa menerima dan ikhlas untuk kuliah di STTNAS. Walaupun
kampus swasta, mungkin ini adalah skenario yang sudah Allah buat untukku. Berkali-kali aku di tolak kampus-kampus lain,
dan aku bisa diterima
di STTNAS, pasti ada hikmah
yang bisa aku dapat nantinya.
Aku percaya bahwa skenario Allah jauh lebih indah.
Menjadi mahasiswa bidimisi memang mempunyai banyak tuntutan.
Diantaranya bisa lulus kuliah tepat waktu, mendapat IP >3.00, aktif
organisasi dan masih banyak lagi. Selain itu, Ibu juga menyuruhku ikut andil
dalam kegiatan masjid daerah kos yang aku tempati, mulai dari remaja masjid
hingga pengajar TPA.
“Nduk,
sing pinter olehmu bagi waktu. Yen melu organisasi ojo lali tujuan utamane
yaiku kuliah. Ojo lali sholat, ngaji, lan poso senin kamise dijaga.” Pesan yang
sering Ibu kirim kepadaku.
Iya betul.
Ketika kuliah memang
harus pintar dalam
membagi waktu. Selain itu juga harus memikirkan cara
agar tidak boros. Itu adalah hal yang paling susah untukku.
Ketika
kuliah tidak sepenuhnya berjalan dengan mulus. Entah tidak punya uang di akhir bulan,
atau urusan kampus
lainnya. Dan Alhamulillah semua itu dapat terlewati. Karena aku tidak sendiri. Aku punya sahabat
yang selalu ada saat senang maupun susah. Ada Ellis ,
Hilliyana dan juga Dyah. Juga dikelilingi orang-orang baik lainnya.
Di
akhir semester, aku kerja part time di sebuah bimbel yang ditawarkan oleh
Hilliyana. Aku ambil tawaran itu. Karena aku tahu bahwa di akhir semester pasti
akan mengeluarkan biaya yang lebih banyak. Mengandalkan uang saku dari
pemerintah untuk mahasiswa bidikmisi saja tidak cukup. Dan aku adalah tipikal orang yang tidak tega untuk mimta uang tambahan
kepada orang tua jika aku benar-
benar tidak sedang membutuhkannya. November 2018, akupun merintis usaha dari hobi yang aku lakukan. Yaitu
membuat handlettering. Hasilmya aku simpan untuk kebutuhan mendesak.
Atas izin Allah dan do’a kedua orang tua, skripsi
ku berjalan dengan
lancar. 5 Februari 2020 aku melakukan sidang pendadaran dan dinyatakan
Lulus. Kini target yang kutulis diawal kuliah dapat kuraih. Ku yakin
pertolongan Allah nyata adanya. Dan Allah akan memberi sesuai atas firasat/niat
hambaNya. Kuharap keberkahan atas segala pengorbanan yang sudah orang tuaku
lakukan, serta barokahnya ilmu yang telah aku peroleh. Thank you to all my
suppprting system.