<!--[if gte vml 1]>
Pagi itu aku mendapatkan
kabar dari ayahku supaya ikut mendaftarkan beasiswa kuliah. Awalnya aku sangat
tidak setuju dan malas sekali melakukannya. Apalagi bosan dengan materi
SMK yang telah aku ambil. Ilmu itu seakan muspra dan hilang entah kemana. Kemampuanku
benar-benar terasa minim sekali, meskipun nilai ujianku tidak begitu buruk.
Lebih mengejutkan lagi, teman sekelasku nilainya di atas rerata semua, baik
segi akademik maupun praktek. Hati ini rasanya sangat gundah dan tak tau bukan kepalang.
Demi menghormati ayahku, aku coba mencari informasi apa saja yang diperlukan dalam proses pendaftaran beasiswa. Surat keterangan tidak mampu aku cari, beserta dokumen lainnya. Sesampainya dilokasi aku bertemu dengan perempuan cantik, yang tak lain penjaga pendaftaran. Aku lihat sepintas mirip teman SD ku, Nur Atmala.
“Permisi mbak, maaf saya Yusuf dari Berbah, mau tanya untuk keperluan pendaftaran beasiswa kuliah apa saja ya?”
“Sebentar ya, saya carikan dahulu, tolong isi buku tamunya
sambil saya mencari persyaratan.”
“Baik bu.”
Jawabku sambil memegang pena yang unik disebelahku.
Tak lama kemudian, aku ditanya tentang asal sekolah dan tahu dari mana informasi ini.
“Adik dari mana ya, lalu dapat info
beasiswa darimana?, ini yang ada beasiswa dari Yayasan untuk pascasarjana.”
“(sambil memegang pena) Saya dapat
informasi dari Pak Toni, kata beliau ada beasiswa untuk yang kurang mampu.”
“Hmm, setahu saya, yang ada hanya
mengenai informasi beasiswa pascasarjana, coba besok dibuat saja
persyaratannya, barangkali ada informasi terbaru dari Yayasan.”
“Baik bu, saya bawa brosur beserta formulirnya.” “Iya,
silahkan.”
Seusai keluar dari ruang kecil itu, rasanya kok aneh, dia tidak tahu mengenai beasiswa yang diinformasikan Pak Toni. Aku pun pulang dan segera mengumpulkan persyaratan yang dibutuhkan.
Keesokan harinya aku datang lagi sambil menyerahkan berkas persyaratan yang diminta, setelah itu aku pergi dan tidak bertanya sesuatu lagi. Aku yakin pasti nanti segera dijawab. Namun setelah beberapa minggu, tidak ada kabar dari pihak kampus. Aku mau bertanya ke sana, akan tetapi rasa malu mengalahkan keberanianku. Tidak banyak tingkah, ku beranikan bertanya pada Pak Toni.
“Pak, kemarin aku sudah daftar dan mengumpulkan berkas,
tapi sampai saat ini belum ada jawaban sampai sekarang?”
“Kemarin
daftarnya sudah sesuai prosedur?”, tanya Pak Toni melalui SMS “Berkasnya sudah
aku serahkan, tapi kok tidak diminta apa-apa ya?” “Mungkin kamu kurang
informasi itu, biasanya memang pendaftaran itu
awalnya ada biaya
sekitar Rp 100.000, setelah berkas masuk baru bisa kami proses.”
“Oalah,
ternyata seperti itu, ya udah Pak Terimakasih.” “Sama-sama.”
Ternyata ini salahku, terlalu berharap semua yang beasiswa selalu diawali dengan gratis. Dalam hati ku selalu berkecambuk. Ingin ku lepas dari jurasan komputer, dengan menyimpang ke Teknik Lingkungan. Tapi ternyata Tuhan tidak meridhoi, aku tidak jadi diterima disana. Sungguh pengorbanan yang telah sia-sia. Kalau tahu prosedurnya seperti itu, pasti aku lakukan. Hatiku selalu menghibur, pasti Tuhan memiliki rencana yang lebih baik lagi.
***
Kisah selanjutnya berubah, yang awalnya mau menyimpang dari jurusan komputer, malah lebih parah lagi, aku terdampar diinduknya jurusan. Belum tahu apa yang akan terjadi sudah membuat kepala ini pusing. Sebelum itu terjadi, aku berusaha merayu bapak kalau aku mau kerja saja, toh kemarin waktu PKL juga nyaman dan aku bisa melakukan pekerjaan itu.
Sayangnya aku berada dikondisi yang
sangat dilema, ditempat PKL ku hanya membuka lowongan OB. Temanku sih oke saja,
tapi aku harus memilih.
“Sudah cup, dicoba aja, lagi pula OB
juga tidak berat.” HRD ku tampak meyakinkan.
“Santai aja cup, jadikan batu loncatan,
mungkin hari ini kamu jadi OB, belum tau kan besok jadi sukses.” Sahut teman marketing, pernyataannya sungguh luwes
hampir membuatku terperdaya dengan perkataan manis itu.
“Iya sih, aku mau coba dulu, anggap saja
sebagai batu loncatan.” Jawabku penuh dengan percaya diri.
Saat aku meminta pendapat dari kakak
tingkatku yang kebetulan bekerja disitu, dia malah melarangku. Menasihatiku
untuk mencari yang lebih baik. Rugi jika hanay menjadi seorang OB.
“Cup, lebih baik jangan dulu, masa
depanmu masih panjang dan cerah, kamu bisa melakukan apa saja yang nantinya
membawamu kepada kesuksesan, ini saran
mbak Endah, jangan sampai kamu nanti menyesal.” Kelembutan mbak Endah muncul
seketika, membuat hatiku yang dilema menjadi lebih semangat lagi.
“Siap mbak, nanti aku pikirkan kembali, terimakasih ya.”
“(sambil mengangguk kepala) Iya.”
Benar juga kata mbak Endah, hidupku
masih panjang dan kesempatan masih terbuka lebar. Tawaran bekerja ditempat itu
aku tolak, walaupun sebenarnya aku masih agak kaku sama koordinator teknisi,
aku rasa memang kami tidak cocok dan kurang sinkron. Lebih baik aku hengkang
dulu, dan ternyata beberapa waktu kemudian mbak Endah juga mengundurkan diri.
***
Sesampai di rumah, ayahku mendapatkan informasi mengenai beasiswa di STTNAS dari temannya. Tidak panjang lebar, aku pun dibawa ke tempat pamanku yang kebetulan juga berprofesi sebagai guru. Aku sudah yakin dengan keputusanku untuk lebih baik cari kerja dahulu, yang berkaitan dengan komputer dan jaringan. Meskipun kemampuanku masih standar rata-rata.
Siang hari baru sampai ke tempat
pamanku, aku baru tahu bahwa dia pamanku sejak tahun 2016, begitu pula bapakku.
Ternyata teman buruh harian lepas bapakku, kakak beliau juga salah satu dari
anak adik kakekku. Di tempat paman, aku serasa ditanting besar-besaran, ditanya tentang apalah arti masa depan
bagiku.
“ Gimana, ada yang bisa dibantu?” Tanya
pamanku sambil menuangkan minuman.
“Ini Pak, anakku coba dikasih nasihat
agar mau kuliah, saya dengar dari teman saya ada informasi bahwa di STTNAS ada
beasiswa kuliah, makanya saya ajak dia kesini agar diberi wejangan.” Ujar bapakku sambil menunjuk diriku.
“Coba cerita le, kamu mau nya seperti apa?”
“(Gugup dan ketakutan) Pakdhe,
sebenarnya aku mau bekerja, untuk mengasah kemampuanku, tapi bapakku
menyarankan aku untuk kuliah, padahal rasanya malas untuk belajar lagi.”
“Le, tak kasih tahu, kami sebagai
orangtua pernah diposisimu, dan kamu belum pernah diposisi kami sekarang ini,
sebagai anak lebih baik ikuti arahan dari orangtua, beliau sudah berpengalaman,
perjuangan itu tidak cukup hanya disini, masih ada perjuangan lain yang
menunggumu, kalau kamu pengin suskes, jangan semau sendirimu, kamu punya kesempatan
menjadi lebih baik, menjunjung martabat orangtuamu, mereka sudah bersusah payah
membanting tulang, kalau ada kesempatana ambil saja, toh nantinya juga akan
bermanfaat untuk dirimu.”
Penjelasan yang cukup panjang dari
pamanku, aku masih bertekad pada pendirianku. Ayahku selalu merayuku, seakan
aku ini anak perempuan yang hendak disuruh memilih calon suami.
Apapun yang nantinya aku ambil, pasti akan ada kelebihan dan kekurangannya. Ku putuskan untuk sholat istikharah, meminta petunjuk dari Alloh, apa yang harus aku ambil. Beberapa kali sholat belum tampak petunjuk, aku pun tambah tak karuhan. Inginnya bekerja tapi malah dipaksa untuk kuliah.
***
Hari demi hari ku lalui, aku pun harus segera memutuskan masa depanku mau dibawa kemana. Akhirnya aku daftarkan diriku menjadi calon mahasiswa di STTNAS. Tersedia beasiswa bidikmisi untuk pertama kalinya, aku pun mencari persyaratan yang dibutuhkan. Mulai dari bertemu kepala BK sekolah asal untuk meminta dibuatkan akun calon penerima bidikmisi dan melengkapi berkas lainnya.
Lembar demi lembar aku selesaikan.
Pendaftaran berhasil ketika telah membayar sejumlah Rp 100.000. Hal ini selalu
ku ingat, tidak ada pendaftaran yang
gratis, walaupun akan mendapatkan beasiswa. Dari sinilah cerita hebat dan
memilukan dimulai.
Hari yang membahagiakan tiba. Aku
mendapatkan surat bahwa telah diterima sebagai mahasiswa bidikmisi STTNAS.
Sebagai formalitas, aku dan ibuku diundang ke kampus untuk diberikan
pengarahan. Kewajiban-kewajiban dan hak telah dibacakan, dan kami harus
menyetujuinya, seperti saat menggunakan aplikasi menceklist agreement. Berarti awal mula perang kami
dimulai. Melawan rasa kemalasan dalam diri untuk ikut berbaur dan menikmati
pelajaran yang tentunya membosanku.
Anak teknik selalu menghindari
matematika dan bahasa inggris. Kami tak mau berurusan dengan materi itu dan tak
mau kenal. Tapi, dijurusan Elektro, semua menjadi tantangan tersendiri.
Matematika banyak sekali materinya, mulai dari diferensial, polinomial dan
integral. Sulit sih sulit, tapi bagaimana pula aku tak bisa selalu menghindar,
sudah masuk ke dalam sarang macan, kalau tidak dilawan, aku pun yang dimangsa.
Pentingnya mempertahankan nilai telah
menghiasi diriku. Otakku selalu dipenuhi dengan ambisi nilai A dan keegoisan.
Rasa egoisku tampak saat ujian tiba. Aku menutup lembar jawabanku dari segala
penjuru. Seolah-olah aku ingin menang sendiri. Pura-pura tidak mendengar,
karena memang takut ketahuan mencontek. Konsekuensinya bisa dicatat dan
dilaporkan pada dosen, itulah ketakutanku selama menjalani ujian. Aku hanya
berusaha untuk mempertahankan rasa kejujuran, meskipun hanya sebuah ujian untuk
mendapatkan nilai.
“(suara
bisikan mendesis), Cup, nomor dua apa jawabannya?” “Cup, nomor empat sudah
belum, lihat sedikit dong!”
“Cup, jangan pelit kenapa, kasih sedikit jawaban, masa mau
menang sendiri?”
“Dasar kamu,
pura-pura gak dengar, tuli paling anak ini.”
Setiap ujian diawal semester seringkali
aku mendengar celotehan semacam itu, dalam hatiku hanya bergumam menanggapi
pernyataan teman-temanku, pura- pura tidak mendengar dan semakin rapat menutup
jawaban ujianku.
“Aku bisa saja memberi jawaban, asal
tidak disaat ujian, aku ingin konsentrasi, kalian pasti tidak tahu bahwa suara
kalian bisa membuat konsentrasiku hilang, baru saja menemukan jawaban, sekarang
lupa lagi mendengar suara kalian, aku memang egois, aku sebenarnya takut jika
ketahuan, aku hanya ingin berusaha bisa menjadi orang jujur, begitu pula
kalian, aku juga ingin
kalian bisa jujur, sesuai kemampuan kalian sendiri, nanti diluar mau belajar
bersama silahkan.”
Lama-kelamaan aku mulai bosan, aku
sadar, sikap egoisku hanya sebatas teori saja. Teman-temanku lebih menguasai
praktek lapangan. Sudah tahu mulai dari nol. Aku hanya fokus pada nilai teori
saja. Praktek terasa sangat kurang, hanya mengandalkan waktu praktikum. Praktek
itu adalah pembiasaan yang telah dilalui dan ada tekad kuat untuk menguasainya.
Kalau pun waktu bisa kembali diputar, aku ingin lebih banyak di laboratorium
mempraktekkan ilmu yang telah didapat dibangku
perkuliahan.
Selepas dari perkuliahan, sebagai
bidikmisi juga harus berpartispasi didalam organisasi. Ku coba ikut himpunan di
jurusan. Cari yang simpel saja dan tak ribet. Dikala itu, selain kuliah akau
juga harus membagi waktu dengan mengaji. Apalagi hanya ada 3 ilmu yang wajib
dicari, yaitu ilmu Al Qur’an, Al Hadits serta ilmu bagi waris yang adil
(faroid), selain itu seperti ilmu teknik, sosial, bisnis online adalah
kelebihan yang diberikan Alloh untuk hamba-Nya guna mencari kehidupan yang
lebih baik di dunia.
Disisi lain ada yang lebih menarik
perhatianku yaitu tim robot, dimana kita bisa berkreasi dan mengikuti kejuaraan
lomba. Aku pernah mendaftar tapi tidak bertahan lama. Setiap hari harus latihan
dan latihan, tidak datang sehari saja sudah ketinggalan materi. Apalagi saat
bertanya, jawaban kakak tingkat ada yang ketus
dan membuatku merasa jengkel.
Sayangnya, otakku telah terpatri untuk lebih mengutamakan urusan agama, daripada ku sia-siakan waktuku di tim robot, lebih baik bisa mengaji dan mendapatkan ilmu akhirat. Hidup di dunia hanya seperti mampir ngombe, sebentar saja, dan lebih kekal di akhirat.
Guruku selalu memberi nasihat, boleh
menjadi orang pandai ilmu dunia, tapi yang lebih penting adalah menanamkan fundamental untuk selalu ingat akhirat.
Walaupun memiliki ilmu setinggi apapun, kalau agamanya bobrok, semua hanya muspra, tidak ada gunanya. Harta dunia
hanya bisa dinikmati seumur hidup saja, bekal akhiratlah yang akan membawa kita
menuju kenikmatan yang kekal abadi selama-lamanya. Kuputuskan, aku lepaskan
keanggotaan dari tim robot.
***
Kehidupan itu seperti roda berputar. Kebutuhan setiap saat bisa saja berubah. Diusia yang sudah semester akhir, penyesalanku mulai tampak. Kenapa dulu tidak bersungguh-sungguh dalam belajar dan praktek, masih banyak ilmu yang mengambang dan hanya setengah-setengah. Adalagi yang lebih membuat sesak, kenapa aku tidak bisa membagi waktu dengan baik, sehingga bisa bergabung dengan tim robot sejak awal.
Semester 6 dan 7 adalah masa kejayaanku
mendapatkan anugrah dibidang non akademik. Di masa ini pula dari STTNAS naik
pangkat menjadi ITNY. Bisa mengikuti lomba regional robotik di Purwokerto dan
lolos pendanaan PKM. Meskipun tidak lolos PIMNAS, Alhamdulillah bisa mengikuti
pameran inovasi.
Di
akhir tahun 2019, proposal kami juga lolos untuk mengikuti perlombaan di
Universitas Widyatama, Bandung.
Ada hal menarik disitu, hikmah yang ku
ambil bahwa semua butuh perjuangan dan pengorbanan. Aku berangkat dari tempat
kerja praktek di Tuban mengendarai bus PJ. Setiba dilokasi penjemputan, rasanya
sangat kesal. Bus yang terjadwal pukul 17.50 di aplikasi, baru sampai jam 20.00
WIB. Setibanya bus, hati ini terasa senang dan berharap bisa sampai tepat waktu.
Menikmati perjalanan di dalam bus, aku hanya tertidur sendirian, sebelahku
kosong.
Keapesanku datang lagi sewaktu sholat
subuh. Bus berhenti di pom bensin Tol Cipali, Majalengka. Sehabis buang air,
aku kembali ke bus. Ku cari ke sana – kemari, bus sudah berangkat. Aku
ketakutan, baru pertama kali menginjakkan tanah di Jawa Barat, sudah
tertinggal. Aku tak tahu harus berbuat apa, langsung ku temui satpam dan ku tanyakan padanya
mengenai bus yang tadi terparkir didekat mushola.
“Permisi
Pak, maaf mau tanya bus PJ yang tadi parkir di situ?” “Bus PJ bukan mas?”
“Iya Pak.”
“Tadi sudah berangkat, belum lama sih, tadi ada yang mencari juga, itu dia mas orangnya.” Sambil menunjuk orang didekat warung.
Aku pun langsung menemui orang tadi,
hati yang ketakutan sudah kembali lega, karena ada teman. Namun, aku bingung cara
menghubungi temanku, di sakuku hanya ada dompet, sedangkan HP dan barang
lainnya di dalam bus semua.
“Mas, juga
tertinggal bus?”
“Iya mas, apes sekali hari ini, sopirnya
itu engga bilang kalau mau berhenti, aku cari dia ke sana kemari tidak ada, pas
balik bus sudah berangkat.” Keluhnya sambil memegang pinggang.
“Terus
bagaimana mas ini?” “Mas tujuan mau ke mana?”
“Ke
Bandung mas, mau mengikuti perlombaan di Widyatama.” “(bergumam) Ayo ngopi dulu
saja mas!”
Aku pun diajak ngopi sembari mas kernet menanyakan informasi untuk berangkat ke Bandung. Dia sih menurutku enak, bisa menunggu temannya yang dari arah Bali. Lha aku bagaimana, kalau tidak sampai bisa membuat khawatir teman-temanku, apalagi tetap harus ke Bandung mengambil tas ku beserta isinya. Setelah aku jelaskan mengenai perlombaan itu, akhirnya mas kernet membantuku ke Bandung.
Perjalanan kami mulai dari truk pembawa
barang, ku coba meminjam handphone beliau untuk mengabari teman-temanku. Salah
satu media yang bisa aku
pakai hanyalah facebook. Satu persatu
temanku ku kabari, bahwa aku tertinggal bus, dan ini masih mencari cara untuk
berangkat ke Bandung.
Aku dan mas kernet turun ke bawah tol Cipali, naik angkot mini ke arah Kadipaten. Setiap orang membayar Rp 2000. Aku hanya ikut saja sama mas kernet. Semua orang memakai bahasa sunda, aku sadar bahwa orang lain ketika datang ke Jogja mungkin juga seperti itu, tidak bisa berbahasa Jawa. Setiba di Kadipaten, kami naik Elf ke arah Bandung. Jarak dari Kadipaten ke Bandung masih sekitar 60 KM, bus melaju kencang bagaikan tak membawa penumpang. Angin semilir masuk melalui jendela sopir. Dingin badan ini sampai mau mual, belum makan pula, ditambah seorang perempuan di depanku mual banyak sekali.
Perjalanan Elf berakhir sebelum gerbang terminal Leuwi Panjang. Aku diajak mas kernet menuju basecamp bus PJ untuk nantinya diantar ke kantor PJ Bandung. Setelah sekian lama, akhirnya tas ku kembali. Ku hubungi temanku untuk segera menjemput. Mungkin inilah keberuntungan dari pengorbanan yang telah ku lalui. Kami kira tidak akan mendapatkan juara, penemuan tim lain terlihat lebih menarik. Alhamdulillah, sebuah hasil yang tak terduga, Alloh memberikan ganti yang lebih barokah.
Mendapatkan kejuaraan, hatiku merasa
ingin menambah pundi-pundi prestasi. Seandainya waktu bisa diputar, aku ingin
mencari banyak prestasi, sehingga dunia dapat, akhirat juga dapat. Namun aku
sadar, sudah bukan waktunya
untuk mengejar semua hal tadi. Kini aku harus fokus pada tugas akhirku dan segera menyelesaikan misi
bidikmisi ini.
Kemampuan yang minim bukan penghalang
untuk tetap maju. Meskipun belum bisa menguasai ilmu elektro dengan baik, aku
harus tetap bangkit dan terus berkarya. Kuliah hanya salah satu jalur menuju
kesuksesan. Mungkin inilah batu loncatan yang lebih baik daripada menjadi OB
untuk merintis karir dimasa depan. Aku tahu, perkembangan
teknologi yang semakin canggih, telah membuatku semakin dilema. Hanya berdoa
dan memohon petunjuk kepada Alloh yang bisa aku lakukan. Semoga apa yang aku
lakukan bisa mendatangkan kemanfaatan untuk keluarga, masyarakat dan bangsaku,
tentunya bersama sahabat-sahabat seperjuangan.