Di
malam hitam pekat yang berselimut gerimis tipis ini kumulai cerita tentang awal dari sebuah
keputusan besar yang akan membawa
saya menakhlukkan dunia ini. Aku sandarkan kepalaku
di balkon pondok
putri tempatku menuntut
ilmu setahun terakhir ini. Kulemparkan pandanganku kelangit,
menerawang jauh disana mengingat-ingat tentang perjuanganku setahun kemaren
jatuh bangun mengejar mimpiku untuk masuk dan diterima di kampus impianku dulu.
Tak
terasa sebentar lagi waktu ajaran baru akan datang. Kelabu fikiran dan juga beribu kebimbangan mulai menelisik
kedalam ruang hidupku. Tetap melanjutkan mondok untuk menyelesaikan target baru
menghafal Al-qur’an dan ilmu-ilmu agama, atau kembali untuk mengejar
impian-impianku yang sempat tertunda dulu. Kebimbangan ini berhasil menguras
fikiranku, dari mulai tidur tidak nyenyak, makan tak enak, sampai
dengan hafalanku yang sudah mulai
tak karuan karena kurangnya kefokusanku. Setelah adanya berbagai pertimbangan
akhirnya aku memutuskan untuk sowan kepada Bu Nyai dan Pak Yai pengasuh pondok
untuk meminta izin pulang sebentar
ingin mengutarakan maksud kepada kedua orang tua. Dengan penuh pengertian Bu Nyai dan
Pak Yai mengizinkanku untuk pulang dirumah dan memberikan beberapa waktu
tambahan agar aku bisa menenangkan diri, melihat kegelisahan diwajahku yang
tidak dapat kusembunyikan. Dengan ta’dzim aku berterimakasih dan berpamitan
kepada keduanya. Tanpa menunggu waktu lama,
aku bergegas untuk mempersiapkan kepulanganku dengan membawa
barang-barang secukupnya, dan beristirahat dengan cukup agar keesokan harinya
aku dapat menempuh perjalanan pulang dengan baik.
Setibanya
dirumah bapak dan ibuk menyambutku dengan baik. Setelah makan malam bersama,
pelan-pelan dengan nada lembut dan hati-hati, aku mulai menyampaikan maksud
kepulanganku dan juga kebimbanganku
yang akhir-akhir ini membingungkanku. Bapak dan ibu menyambut maksudku dengan baik, dan memberikan beberapa
nasehat kehidupan buatku yang pastinya
akan selalu aku ingat dan aku pegang sebagai bekal kehidupan nanti. Bapak dan
ibu sepenuhnya mendukung keputusanku, entah itu untuk lanjut mondok ataupun
untuk mencoba kembali peluang belajar
di dunia perkuliahan. Kebimbangan kembali menyergapku seolah-olah seluruh
anggota tubuhku memprotes
dan mendemo kepada diriku yang tak kunjung tegas dalam mengambil
keputusan. Setelah berbagai pertimbangan yang
telah aku rumuskan,
akhirnya aku putuskan
dan aku mantapkan untuk kembali mengejar cita-citaku belajar
diperguruan tinggi.
Keesokan harinya, aku mulai mencari info tentang pembukaan pendaftaran berbagai perguruan tinggi. Mulai dari perguruan tinggi negeri sampai swasta semua aku coba menelisik infonya. Tak hanya berhenti disitu, ikhtiarku untuk bisa diterima di perguruan tinggi aku coba dengan mengikuti bimbel selama kurang lebih dua bulan. Tak lupa setiap malam aku belajar mandiri mengulang kembali materi yang telah disampaikan di bimbel tadi, dan mencoba menghabiskan soal-soal seleksi perguruan tinggi. Tak lupa juga usaha do’a yang selalu kulantunkan, karena aku tau, segigih apapun aku berjuang, sepintar apapun otakku berhasil membabat soal-soal, tetapi tanpa pertolongan-Nya aku bukanlah apa-apa. Hingga akhirnya waktupun tiba, dan aku menikuti seleksi SBMPTN disalah satu kampus favoritku dulu. Kesemuanya aku kerjakan dengan baik dan aku yakin hasilnya nanti aku npasti akan diterima di perguruan tinggi tersebut. Singkat cerita pengumuman SBMPTN pun tiba. Dengan hati gembira dan sedikit was-was sudah tidak sabar lagi untuk melihat hasilnya, akhirnya mataku terbelalak lemah dan tak terasa air mataku telah jatuh disudut mata. Badanku melemas didepan layer laptop yang aku nyalakan. Hatiku kecewa, bingung dan berantakan. Harapanku yang telah aku gantung setinggi langit, tiba-tiba saja meluncur terlempar jatuh di tanah dengan kencangnya hanya dengan satu kedipan mata. Impianku hangus, harapanku hancur didepan mata. Lagi-lagi kegagalan itu menghantuiku dan keputusasaan kembali menyergapku. Aku jatuh.
Singkat
cerita kenangan dan keputusasaanku mereda, aku dipertemukan dengan sahabatku dibangku SMP dulu.
Aku ceritakan tentang
kisah jatuh bangunku setahum lalu, hingga akhirnya aku
gap year dan juga perjuanganku
kemaren dalam memperebutkan bangku perkuliahan melalui SBMPTN hingga kisah
keputusasaan dan hilangnya keingininanku untuk lanjut kuliah. Akhirnya temanku
ini sebut saja dia Tomi menawarkan solusi untukku agar aku bisa kuliah, yaitu kuliah
dikampus yang sama dengannya. Melalui tangan salah satu temanku
yang membantuku untuk menggapai mimpiku maka aku
memutuskan untuk kembali berjuang menggapai mimpiku menjadi Mahasiswa.
Keterbatasan tanganku untuk mengurus semua keperluan untuk mendaftar kuliah
dijembatani oleh uluran tangan temanku yang mengurus semuanya. Dan alhamdulilillah akhirnya aku diterima di universitas yang sama dengan temanku.
Setelah aku dinyatakan positif diterima di bangku perkuliahan, aku kembali ke pondok
dan sowan kepada
Pak Yai dan Bu Nyai untuk meminta
izin boyong dan memohon
restu serta doanya agar selalu dimudahkan dan diberikan kelancaran dalam
kedepannya. Setelah boyong dari pondok ditemani oleh kedua orang tuaku, selang beberapa
hari aku berangkat
ke Jogja untuk mengurusi beberapa
persyaratan kelengkapan kampus, dan juga
mencari tempat tinggal untuk kuliah kedepannya, dan akhirnya
pondok pesantren kembalilah yang aku pilih sebagai
tempat tinggalku disana. Dan
kehidupanku di bangku perkuliahan berjalan dengan lancar, hingga akhirnya suatu
kendala mulai muncul di semester ketiga kuliahku. Aku mendapatkan kabar dari
rumah, bahwasanya bapaku jatuh sakit. Bapakku divonis terkena stroke bagian
anggota kanan oleh dokter, dan terpaksa tidak dapat kembali bekerja sebagaimana
mestinya. Akibat kesakitan ayahku secara perlahan perekonomian dikeluargaku
mulai tidak stabil, dan aku menyadari itu.
Aku mulai memutar otak untuk tetap bisa melanjutkan pendidikanku dengan mencoba mendaftarkan diri ke berbagai lembaga beasiswa yang ada. Selain itu, posisiku sebagai divisi penelitian di organisasi Himpunan Mahasiswa Tehnik Sipil (HMTS) juga menjadi salah satu wadah untuk aku mencoba berkarya melalui berbagai ajang perlombaan. Sayangnya, aku belum bisa lolos dari berbagai lembaga beasiswa yang aku ikuti. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk konsultasi dengan Dosen Wali yang menjadi harapan terakhirku. Dari sini aku dapatkan titik cerah untuk aku bisa melanjutkan pendidikanku dengan mengajukan surat permohonan beasiswa ke kampus. Alhamdulillah suratku diarahkan ke beasiswa bidikmisi, secercah harapan baru untuk aku semakin semangat melanjutkan pendidikanku.
Selain
iktiarku mengajukan beasiswa tersebut, aku juga lolos di ajang perlombaan yang
aku ikuti di Universitas Bangka Belitung dan menjadi salah satu finalis yang
memperebutkan kejuaraan disana. Kutinggalkan kota Yogyakarta sejenak untuk
melangkah ke Bangka Belitung berjuang memperebutkan kejuaraan bersama dengan
teamku. Perjuangan kerasku bersama teamku tak sia-sia, kita menyandang juara ke
tiga untuk kampus kita tercinta. Tak usai dari sini, kabar bahagiapun datang
setelah aku menginjakkan kaki kembali ke Yogyakarta, alhamdulillah aku berhasil mendapatkan beasiswa bidik misi yang
sebelumnya telah aku ajukan. Gema syukur tak henti-hentinya aku lantunkan
sebagai bentuk syukurku kepada-Nya atas segala nikmat yang tak pernah aku
sangka-sangka sebelumnya.
Dengan diterimanya aku di beasiswa
bidikmisi ini, aku dapat kembali focus menekuni perkuliahanku, tanpa harus
memecah pikiranku dengan kebimbangan- kebimbangan sebelumnya yang telah
mengusikku. Aku yakin, takdir Allah
itu indah, kita sebagai manusia tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi keesokan harinya, tapi kita harus selalu yakin bahwa Allah Sang Maha Kuasa atas segalanya.
Alhamdulillah…….